Receiver radio tidak dimulai dari transistor. Jalur sinyal dimulai pada terminal antena, tempat medan elektromagnetik menghasilkan tegangan dan arus RF kecil yang kemudian dapat diproses oleh rangkaian.

Pemisahan ini penting pada proyek yang memakai transistor diskret. Antena, rangkaian tuning, detector, dan amplifier memiliki fungsi elektrik yang berbeda. Menyebut semuanya sebagai “rangkaian radio” dapat menutupi batas yang menentukan apakah receiver mampu memilih stasiun, mengambil modulasi, dan menghasilkan output yang cukup kuat untuk didengar.

Antena adalah interface RF

Antena penerima mengkopel energi dari gelombang elektromagnetik ke receiver. Bergantung pada geometri antena dan frekuensinya, besaran listrik yang berguna muncul sebagai tegangan dan arus bolak-balik kecil pada feed point.

Jalur sinyal sederhananya:

gelombang elektromagnetik
        |
        v
      antena
        |
        v
tegangan/arus RF kecil

Antena biasanya tidak langsung menghasilkan audio. Sinyal broadcast yang tiba di antena masih berupa waveform radio-frequency yang membawa informasi melalui modulasi.

Seutas kawat dapat berfungsi sebagai antena pada beberapa receiver, tetapi panjang, orientasi, impedance, konduktor di sekitarnya, susunan ground, dan frekuensi kerja semuanya memengaruhi coupling. Karena itu, “pakai kawat apa saja” cocok sebagai eksperimen, bukan aturan desain antena secara umum.

Tuning memilih rentang frekuensi

Antena dapat menerima energi dari banyak transmitter dan sumber noise sekaligus. Rangkaian resonan memberi receiver kemampuan memilih frekuensi.

Rangkaian dasar yang umum memakai induktor dan kapasitor:

        L
antena---^^^^--+
               |
               C
               |
             ground

Untuk resonator LC ideal, frekuensi resonansinya kira-kira:

f0 = 1 / (2π√(LC))

Mengubah (L) atau (C) menggeser resonansi. Karena itu, variable capacitor umum dipakai sebagai kontrol tuning pada radio AM tradisional.

Rangkaian tuning nyata memiliki bandwidth terbatas dan rugi-rugi. Selectivity dipengaruhi loaded Q, source dan load impedance, rugi komponen, coupling, serta topologi rangkaian. Resonansi bukan berarti semua frekuensi lain hilang; respons rangkaian hanya berbeda terhadap frekuensi yang berbeda.

Detection mengambil modulasi

Setelah tuning, receiver AM masih menerima carrier RF yang amplitudonya berubah mengikuti informasi yang dikirim. Audio harus dipisahkan dari waveform RF tersebut.

Envelope detector sederhana dapat menggunakan diode, capacitor, dan load resistor:

tuned RF ---->|----+---- audio
              diode |
                    C
                    |
                    R
                    |
                  ground

Diode menyearahkan waveform RF. Jaringan RC mengikuti envelope yang berubah lebih lambat sambil menekan sebagian besar variasi pada carrier frequency.

Inilah alasan crystal radio AM dasar dapat bekerja tanpa transistor. Transistor tidak mutlak diperlukan untuk proses penerimaan maupun envelope detection. Jika sinyal cukup kuat, energi dari sinyal yang diterima dapat menggerakkan earpiece sensitif dengan impedance tinggi.

Time constant detector tetap menjadi batas desain. Jika terlalu pendek, carrier ripple yang tersisa terlalu besar. Jika terlalu panjang, output tidak mampu mengikuti perubahan envelope modulasi yang lebih cepat.

Transistor berguna ketika sinyal terlalu lemah

Transistor dapat ditempatkan sebelum atau sesudah detector, tetapi fungsinya berbeda sesuai posisinya.

RF amplifier sebelum detector menaikkan level sinyal radio-frequency yang sudah dipilih:

antena -> rangkaian tuning -> RF transistor amplifier -> detector

Audio-frequency amplifier setelah detector menaikkan level audio yang telah dipulihkan:

antena -> rangkaian tuning -> detector -> transistor audio amplifier -> earpiece/speaker

Receiver praktis dapat menggunakan keduanya.

Karena itu, transistor kurang tepat disebut sebagai komponen yang “menangkap” gelombang radio. Pada receiver konvensional, antenalah interface elektromagnetiknya. Transistor menyediakan gain dan juga dapat digunakan pada oscillator, mixer, buffer, detector, serta tahap pemrosesan sinyal lainnya.

Transistor dapat memengaruhi tuning tanpa menggantikan antena

Perangkat aktif berinteraksi dengan RF input impedance, sehingga batas antarbagian tidak benar-benar terisolasi pada rangkaian nyata. Menghubungkan tahap transistor ke resonator LC akan membebani resonator tersebut. Bias network dan kapasitansi transistor dapat mengubah gain, bandwidth, serta perilaku tuning efektif.

Efek ini semakin penting pada frekuensi tinggi, ketika parasitic capacitance dan inductance tidak lagi dapat diabaikan.

Karena itu, model yang lebih berguna adalah berdasarkan fungsi, bukan sekadar komponen:

antena          coupling dari medan elektromagnetik
rangkaian tuning pemilihan frekuensi
detector        pengambilan modulasi
transistor      gain / pemrosesan sinyal aktif
transducer      sinyal listrik -> suara

Satu tahap fisik dapat menjalankan lebih dari satu fungsi, tetapi fungsi-fungsi tersebut tetap berbeda.

AM lebih sederhana untuk rangkaian diskret

AM cocok untuk receiver minimal karena informasinya direpresentasikan oleh envelope carrier. Diode envelope detector dapat mengambil informasi itu tanpa menghasilkan local reference carrier.

FM berbeda karena informasi harus diambil dari frequency deviation, bukan perubahan amplitudo. Receiver FM praktis memerlukan discriminator, quadrature detector, PLL, atau metode frequency demodulation lainnya. Receiver FM dengan transistor diskret tetap mungkin dibuat, tetapi masalahnya jauh berbeda dari sekadar menambahkan antena dan satu transistor ke detector AM.

Receiver paling sederhana bergantung pada kebutuhan output

“Apakah radio dapat diterima tanpa transistor?” dan “Apakah speaker dapat digerakkan tanpa transistor?” adalah dua pertanyaan berbeda.

Crystal receiver AM pasif dapat menghasilkan audio yang dapat digunakan ketika transmitter cukup kuat, sistem antena dan ground efektif, serta earphone memberikan load yang sesuai. Loudspeaker berimpedance rendah biasanya membutuhkan daya jauh lebih besar daripada yang dapat diberikan detector secara langsung.

Di sinilah gain transistor mengubah kemampuan sistem: bukan dengan membuat antena mampu menerima gelombang elektromagnetik, tetapi dengan membuat sinyal listrik yang sudah dipulihkan cukup kuat untuk load yang lebih berat.

Batas fungsionalnya dapat diringkas sebagai:

udara -> antena -> pemilihan RF -> demodulasi -> penguatan -> suara

Setelah fungsi-fungsi itu dipisahkan, radio diskret lebih mudah dianalisis. Antena menentukan bagaimana energi RF masuk ke rangkaian; jaringan tuning menentukan bagian spektrum yang ditekankan; detector mengambil modulasi; dan tahap transistor menyediakan gain ketika level sinyal atau daya output yang tersedia belum mencukupi.