<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
  <channel>
    <title>Desain UI on Nalar</title>
    <link>https://nalar.dev/id/tags/desain-ui/</link>
    <description>Recent content in Desain UI on Nalar</description>
    <generator>Hugo</generator>
    <language>id-id</language>
    <lastBuildDate>Sat, 19 Sep 2026 00:00:00 +0000</lastBuildDate>
    <atom:link href="https://nalar.dev/id/tags/desain-ui/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml" />
    <item>
      <title>Token Tema Berbasis Warna Logo untuk Antarmuka Web yang Berkarakter</title>
      <link>https://nalar.dev/id/token-tema-berbasis-warna-logo/</link>
      <pubDate>Sat, 19 Sep 2026 00:00:00 +0000</pubDate>
      <guid>https://nalar.dev/id/token-tema-berbasis-warna-logo/</guid>
      <description>&lt;p&gt;Palet warna logo bukan design system. Menyalin warna dominan logo ke button, card, background, border, dan gradient biasanya membuat halaman terasa terlalu penuh warna, bukan lebih berkarakter. Langkah yang lebih berguna adalah menerjemahkan logo menjadi token tema semantik: sekumpulan role kecil yang dapat dipakai komponen secara konsisten.&lt;/p&gt;&#xA;&lt;p&gt;Pemisahan ini semakin penting ketika interface memakai pola visual yang ekspresif seperti bento grid, typography berukuran besar, surface transparan, dan scroll motion. Teknik-teknik tersebut dapat membentuk identitas yang kuat, tetapi hasilnya baru terasa utuh jika warna, hierarchy, dan movement berasal dari satu sistem yang sama, bukan dari kumpulan efek yang ditempel terpisah.&lt;/p&gt;</description>
    </item>
  </channel>
</rss>
